Tampilkan postingan dengan label E. ARTIKEL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label E. ARTIKEL. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 April 2010

Warna ku, Warna mu

Warna ku, Warna mu
Oleh Redywan James Purba

Warna itu indah! Kata siapa? Kata orang! Orang mana? Hampir semua orang! Tapi itu kan masih katanya. Berarti belum ada kepastian. Mungkin saja dia berkata seperti itu karena dia menyukai salah satu dari jenis yang ada. Ada orang yang suka merah, yang lain biru dan yang lain lagi kuning. Mungkin semua tergantung pada orangnya. Bagaimana dengan mu? Bagiku warna menarik, bukan masalah suka ini atau tidak.
Warna memberi sesuatu dalam penglihatan. Jika warna tidak ada, maka indera penglihatan kita terasa ‘hambar’, Dia tak bisa memberi penilaian tentang yang dilihatnya. Jangankan memberi penilaian, dia mungkin tak mau hidup lagi. Kenapa? Yah karena dia sudah kehilangan fungsinya. Dia tak lagi melakukan tugasnya sebagaimana mestinya.

Jika kita melihat sekeliling, banyak yang dapat kita bedakan tanpa menyentuhnya. Siapa yang membuat demikian? Warna. Jika bukan karena dia, kita mungkin tetap bisa melihat, namun tak dapat memiliki keindahannya.

Begitulah orang Kristen. Semua orang itu diciptakan memiliki kemampuan, talenta, bakat, dan ketertarikan serta panggilan yang berbeda. Setiap orang menampilkan sesuatu agar orang lain bisa melihatnya. Orang diciptakan untuk mengerjakan dan memberi sesuatu dari dirinya. Jika kita telah melakukannya, tentu orang akan merasa kehadiran kita. Melihat apa yang kita berikan karena kita memberikan warna yang berbeda. Namun sudahkah kita melakukannya?

Berpikir

Berpikir
Oleh Redywan James Purba

Berpikir… kenapa aku sangat menyenangi aktivitas ini? mungkin setiap hari dengannya. Wah... kenapa bisa begitu?, sebenarnya aku malas, tapi mau bagaimana lagi? itulah kenyataannya.

Kadang aku menikmati waktu-waktu berpikir. Namun, tak jarang juga aku sepertinya tersiksa dengan waktu berpikir ku. Saat berpikir menghasilkan ide dan aktivitas baru yang ingin kulakukan terasa nikmat, ingin terus kulalui. Tapi jika waktu berpikir itu malah memberikan tekanan dan membuat pikiran ini jadi tumpul dan menimbulkan masalah, “habislah kita“. Pikiran sepertinya ditekan, ingin keluar, tapi tak bisa. Yah... tapi itulah pengalaman yang kuhadapi saat berpikir.

Satu hal yang buat ku bingung kenapa aku masih memiliki waktu berpikir?. Jika ku perhatikan dan kuingat keseharianku, sepertinya aku hampir tidak punya waktu luang untuk berpikir. Hampir setiap jam, menit bahkan detik sekalipun kulalui dengan berbagai macam aktivitas yang padat.

Loh... kenapa aku jadi bingung sendiri. Kan... Ternyata saat menulis ini pun aku berpikir. Aku sadar saat melakukan apapun aku berpikir.

Ketika semua yang terlintas tak sempat terucap...

Maka muailah menuliskannya
Mengejar sesuatu yang telah berlalu tak akan membuat kita merasa dapat memperbaiki masa lalu
Tuliskanlah...