Tampilkan postingan dengan label B. NARASI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label B. NARASI. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Juli 2010

Si Bijak yang berarti

Si Bijak yang berarti
Oleh Redywan James Purba

Si emosi bergejolak lagi. Wanita itu tak tahan menahan marahnya. Dilakukannya apa yang ingin dilakukannya. Dilemparnya apa saja yang terjangkau oleh tangannya. Hatinya geram. Gagal akan semua inginnya. Inginan itu sudah lama terpendam namun tak kunjung tercapai.
Hari itu hari yang tak baik baginya. Tak hanya hari itu, beberapa hari belakangan bahkan sangat membuatnya kesal. Fokus hilang, semangat melayang. Dia tak ingin begitu tapi kondisi mengharsukannya karena serasa tak mampu melawan. Rasa itu tak juga mau keluar. Emosi disimpan dalam lubuk hati yang dalam. Sesak! Menyiksa hingga meredam karya.
Masa itu tak muncul sedikit yakin dalam dirinya. Hanya bias pasrah dan menyerah begitu saja. Detik kembali bergulir, semua semakin tersimpan dalam hati. Tersiksa. Apa daya karena dia sedang tak mau berjuang.
Seandainya sedikit saja mencoba.
Hari ini dia mencoba. Hidupkan “bijak” dalam dirinya. Beruntung, hari itu si bijak datang. Secercah harapan tuk melangkah keluar. Di sisinya, masih ada hasutan halus yang mengajak tuk tinggal diam. “Hah…!!!, wanita itu berhenti melangkah. Melirik kiri lalu ke belakang. Hasutan itu masih terlalu kuat baginya. Dengan sedikit tunduk sambil mengurai rambutnya, dia kembali tak melanjutkan langkahnya. Dia pun masih ada di lembah yang sama.
Berhari-hari dia ingin mencoba lagi. Tak berdaya, si “bijak” tak menghampirinya. Si bijak ternyata mengerahkan semua sisa tenaganya. Sekian lama tak diisi karena terlewat begitu saja. Sumber tenaga asalnya tak tersambung baginya.
Dengan tenaga tersisa si bijak berupaya meneguhkannya. Wanita itu kembali tergugah. Tak seperti sedia kala, kali ini dia memberi fokus pada langkahnya. Tatap arah yang seharusnya. Hidupkan relasi pada DIA sang Sumber Bijaksana.
Kini dia merasa lebih baik. Si “Bijak” itu memberi hidup pada dirinya. Luka hilang begitu saja. Semakin belajar tuk kuasai emosinya. Dia perlu si “Bijak” yang berarti. Tak hanya itu, wanita itu perlu juga membuat hidup si “Bijak” lewat relasi dengan sumbernya.
Kini… Wanita itu tak lagi bersedih. Mampu kuasai emosi hati. Sebelum melangkah kaki dia menyadari betapa berartinya si “Bijak” bagi hidupnya kini dan nanti.

Cipaku Permai 14,
Juli, dua enam - 2010

Senin, 26 April 2010

- Tak Pernah Dia Tidur -

- Tak Pernah Dia Tidur -

Oleh Redywan James Purba

“Aku melihat bintangnya” seru ku dengan nada yang tak menghiraukan sekitarku
“Dimana? Kok Aku tidak melihatnya “ cetus pria kurus yang setengah sadar
“Di sebelah kiri, perhatikan saja” seru ku menggurui tentang posisi cahaya itu.

Cahaya yang seperti bintang jatuh itu mungkin bukan pertama kalinya kulihat. Tapi kehadirannya di pantai itu bak kehadiran seorang superstar yang lama kunantikan. Bagaimana tak diiringi decak kagum, posisi ku melihatnya kali ini begitu pas. Di atas pelbed penuh hamparan pasir pantai, kusaksikan kilatnya. Tak hanya sekali, berkali-kali.

Namun, tak lama juga aku bertahan. Dalam beberapa menit selanjutnya aku tak kuasa menahan kantuk ku. Aku tertidur. Pulas seperti sekumpulan teman ku yang sedari tadi nyaman dengan sleeping bed yang membungkus tubuh mereka.

Tak begitu dengan dia. Si Pria yang sedari semalaman menjadi supir mobil hingga kami tiba di pantai ini. Dia tak tertidur meski kelelahan menghampirinya. Dia tetap berjaga. Mungkin pengalamannya hidup di alam mensiratkan nya untuk berjaga di kala malam tiba. Dia tetap tak tertidur meski mulut dan matanya tak lagi bisa menutupi betapa mengantukya ia.

Setelah sekian lama, akhirnya dia tertidur juga. Tapi… tahukah Anda bahwa TUHAN tak pernah tidur? Ya… DIA adalah Allah yang tak pernah tidur dan terlelap.

“Sesungguhnya tidak terlelap dan tidak tertidur Penjaga Israel. TUHANlah Penjagamu, TUHANlah naunganmu di sebelah tangan kananmu. Matahari tidak menyakiti engkau pada waktu siang, atau bulan pada waktu malam.TUHAN akan menjaga engkau terhadap segala kecelakaan; Ia akan menjaga nyawamu. TUHAN akan menjaga keluar masukmu, dari sekarang sampai selama-lamanya.
Maz 121 : 4-8

Selamat menikmati hadirat Allah yang tak pernah terlelap itu.
Pantai APRA, SIndang Barang
April, dua puluh empat – 2010
04.40 am
Saat menantikan fajar menunjukkn sinarnya

Kamis, 22 April 2010

Sang Penambal Hidup

Sang Penambal Hidup
Kutuliskan untuk mereka yang sedang berjuang melawan tekanan dan tantangan dalam hidup nya

Oleh Redywan James Purba S.Psi

Perjalanan penuh tantangan dengan kecepatan tak kurang 100 km/jam malam itu membuat ku terlena dengan keahlian ku mengendarai motor kesukaan ku. Molang. Begitu aku dan semua orang yang mengenal ku menyebut motor itu. Kau mau tahu singkatan apa itu? Motor Petualang. Yah… Sekalipun berpenampilan sedikitcity ride, tapi naluri petualang dalam dirinya tak pernah kuragukan. Semua terbukti nyata dengan lokasi dan daerah yang dijangkaunya. Tak tanggung-tanggung, pulau Jawa dari Banten hingga Jawa Timur, Banyuwangi telah lewat oleh jangkauannya.

Molang ku begitu gagah. Mempesona. Jiwa petualang sejati memang melekat dalam dirinya. Tak seorang pun kan membantah, apalagi orang yang pernah menungganginya. Jika kau bertanya pendapatku tentang nya? Wah… Tak ada lagi kata yang sanggup mendeskripsikan ketangguhannya. Mau gimana, itu deskripsi wajar karena akulah pemiliknya.

Tapi…
Malam itu menjadi berbeda. Molang ku tak seperti biasa. Sepulang perjalanan malam dari Jatinangor, dia tampak tak kuasa. Aku mendorongnya. Roda belakang yang kuat sebagai bagian kegagahannya pun tak terlihat darinya. Dia lemah bak pesakitan berjalan di jalan lapang. Mungkin seandainya bisa bicara dia akan berkata, “Maaf aku sudah tak kuat. Aku kelelahan, bahkan jika mungkin dia berkata, “Aku takut melanjutkan perjalanan ini”

Aku teringat akan kejadian serupa yang pernah menimpa ku. Saat aku begitu putus asa. Tak mampu lakukan apapun. Jangankan berjalan, berdiri pun begitu berat dan tak kuasa kulakukan. Masa itu sangat tak enak. Gerah. Tak kuasa beranjak tapi terkadang justru ku terbuai tetap dalam kondisi itu.

Satu yang perlu engkau lakukan. Beranjaklah. Temukan tempat yang tepat. Seperti molang yang akhirnya tepat di tukang tambal ban. Menemukan perbaikan hidup lewat sang penambal ban dan dapat kembali berjalan dan menyelesaikan perjalanan malam itu.

Bagaimana dengan mu? Adakah kepenatan hidup dan tekanan begitu menguasai mu? Beranjak dan datanglah ke tempat yang tepat. Kepada Dia sang ‘Penambal’ dan juga Pencipta mu. Kiranya tulisan ini bisa meneguhkan mu untuk terus berjuang menyelesaikan tugas dan tanggung jawab mu.

Sukajadi, April, dua satu, 2010
di samping Tukang tambal ban sambil menikmati Mie Kwietiau
11.30 pm

Sabtu, 10 April 2010

Mens sana in corpore sano

Mens sana in corpore sano

Oleh Redywan James Purba S.Psi

“Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid” Yesaya 50:4

Pagi itu menjadi pagi baru yang berbeda. Semua aktivitas di kampus itu terlihat dengan jelas bagiku. Mataku tak melewatkan satu pun aktivitas orang yang melintas di depan GOR itu. Banyak orang datang ke kampus. Bukan untuk kuliah. Bukan juga praktikum. Yakinah kostum mereka tak mendukung. Celana pendek, sepatu olahraga, sebotol minuman dan handuk kecil yang siap untuk melap keringat terletak di leher. Semua padu untuk olahraga hari itu.

Sabtu sehat sepertinya sudah menjadi tren bagi anak-anak di Jatinangor. Senam, aerobik, badminton, futsal sudah menjadi aktivitas gaul bagi mereka. Begitu juga dengan kami hari itu. Kehadiran ku sebagai instruktur senam menjadi pemicu semangat di Sabtu Sehat bersama mereka di lapangan itu. Seperti orang lain di kampus itu kami pun berolahraga untuk menjaga tubuh tetap sehat.

Mens sana in corpore sano, adalah sebuah kalimat dalam bahasa Latin yang artinya adalah "Jiwa yang sehat dalam tubuh yang sehat." Maksudnya jika jiwa seseorang sehat, maka tubuhnya akan sehat juga. Begitu pula sebaliknya. Karena itulah banyak orang melakukan olahraga.

Seperti tubuh,begitulah kerohanian kita. Jika kita perlu menjaga tubuh tetap sehat kita pun perlu menjaga kerohanian kita tetap sehat. Kerohanian perlu mendapatkan makanan dan latihan yang teratur. Melalui Saat Teduh, belajar Firman dan Doa yang teratur maka kerohanian kita akan tetap sehat dan bugar.

Bagaimana dengan mu? Pastikan kau terus menjaga dan melakukannya.

Sebelah GOR Pakuan, Maret-sepuluh, 2010
Sabtu Sehat bersama KMPK FTIP-FPIK UNPAD
08.00 am

Jumat, 09 April 2010

- MM ± 120 -

- MM ± 120 -
Oleh Redywan James Purba

“Bang apa artinya itu? Aku gak ngeti lah”, seru wanita itu dengan polos
“Ouwh… Kalau MM ± 120 itu artinya dalam satu menit abang bisa mengetuk sebanyak 120 kali”, sambil memperagakan dengan tepuk tangan.
‘Trus… kalau dalam semenit tidak sampai 120?” tanya nya lagi dengan penasaran.
“Itu berarti kita menyanyikan lagi itu terlalu lambat, nah kalau lebih berarti terlalu cepat. Kita harus mengurangi kecepatannya”, seru ku sedikit bijaksana.

Aku justru teringat untuk menuliskan topik ini saat berlatih lagu itu. Sherped of My Soul, begitu judul yang tertera di lagu itu. Di kiri bawahnya tertulis catatan itu. MM ± 120 . Di depan susunan buku dalam ruangan itu aku mengajarkan apa yang mereka tanyakan pada ku. Hanya apa yang aku mampu.
Sebagai seorang pencipta lagu mungkin aku sangat paham akan tanda itu. Tanda yang akhirnya memudahkan orang lain untuk mengetahui bagaimana seharusnya menyanyikan lagu yang kita ciptakan. Tapi pertanyaan seorang wanita malam itu mengusik ku dan mengajak ku berpikir.
Metronome Moderat atau disingkat dengan MM. Dalam bahasa Indonesia cepat lambatnya kita menyanyikan lagu. Ketika sebuah lagu diberi tanda sejumlah angka maka orang akan tahu secepat apa dia harus menyanyikan lagu itu.
MM itu tak hanya mengusik ku. Itu mengingakan ku pada kecepatan langkah hidup ku. Kecepatan seperti apa yang biasa kujalankan atas pilihan-pilihan dalam hidup ku. Sering sekali keinginanku membuatku mengejar sesuatu tanpa memperhatikan langkah ku. Kupaksakan begitu cepat walau tak sepenuhnya yakin. Biasanya dalam kondisi seperti itu aku jatuh dan gagal.
Terkadang aku merasa tak yakin sehingga perlu mengurangi kecepatan langkah ku. Aku ragu. Tak yakin mengambil pilihan. Lebih memilih diam walau terkadang tak semestinya begitu. Tapi lagi-lagi aku gagal karena itu hanya ketakutan ku. Lalu aku bertanya. Bagaimana seharusnya? Jawabannya hanya satu. Dalam setiap fase hidup mu, ikuti berapa kecepatan yang seharunya dalam langkah mu. Dalam berbagai hal perlu menata hati agar kau tahu berapa kecepatan mu.
Ingat! Siapa yang memberikan tanda metronom itu? Dialah sang pencipta lagu.
Bagaimana dengan mu? Pemberi metronom dalam hidup mu adalah penciptamu, karena itu ikutilah berapa kecepatan yang seharusnya kau lakukan dalam setiap babak hidup mu. Semoga lagu ini mengingatkan kau dan aku.
Kaulah Penulis Hidup ku
Giving My Best. 4 Ketuk, MM ± 80

Kaulah Penulis hidupku
Engkau membuat sgalanya baru
Engkau di dalam ku dan ku ada dalam Mu
Tak ada yang tak mungkin bagi Mu .

Ku dicipta untuk Mu
'Tuk membawa harum namaMu
Engkau di dalam ku dan ku ada dalam Mu
Kini ku datang mencari wajahMu .

Mengasihi Mu slalu dengan sgenap hatiku
Mencintai seluruh perbuatanMu
Mengabdikan hidupku sesuai rencanaMu
Ku mau menyembah Mu sampai akhir hayatku .

Kau memahami hatiku
Hanya Kau yang mengerti ku slalu
Engkau di dalam ku dan ku ada dalam Mu
Kini ku datang mencari wajahMu .

Mengasihi Mu slalu dengan sgenap hatiku
Mencintai seluruh perbuatanMu
Mengabdikan hidupku sesuai rencanaMu
Ku mau menyembahMu sampai akhir hayatku .


Jatinangor, April, Sembilan-2010
09.55 pm

Jumat, 02 April 2010

: Menata Hati :

: Menata Hati :
Oleh Redywan James Purba S.Psi

Ini topik yang bernas! Kau tak akan mungkin dapat memahami dan menerimanya jika hati mu tak siap. Tanya kenapa? Tanya saja pada yang sedang mengalaminya. Tanya pada mereka. Berat. Penuh tantangan. Menguras tenaga dan pikiran. Hanya harapkan manfaatnya. Begitu luar biasa.
Segala sesuatu yang dimulai karena respon ketaatan maka setiap jawaban seharusnya diresponi dengan ketaatan. Ketaatan seperti apa? Ketaatan yang membutuhkan hati yang mau ditata. Bergumul untuk pimpinan akan suatu hal memerlukan waktu untuk menata hati.
Ada masa sangat yakin untuk melangkah sehingga perlu ditata untuk berpikir sebelum melangkah. Ada masa terlalu ragu melangkah untuk beranjak pergi, tapi si keraguan terlalu berkuasa, maka pada saat itu perlu hati yang mau ditata untuk keluar dan membuka hati.
Jika begitu, aku tak kuasa. Tapi setidaknya aku memilih langkah pertama. Memberi hati tuk ditata oleh Dia yang sanggup menata. Itu sudah…

Refresh, Jatinangor, Maret dua tujuh, 11.00 pm

“Berjalanlah, Jangan Menyerah”

“Berjalanlah, Jangan Menyerah”
Oleh Redywan James Purba

Tak ada yang normal. Semua terlihat aneh. Sore itu menjadi sore yang penuh ketaklaziman. Ada yang menemukan taman Avatar, sementara yang lain makan sambil duduk diatas meja. Mengelilingi jalan berputar yang ternyata bisa dilalaui dengan jalan pintas dan juga berdiri bersama diatas jembatan bambu yang tak lagi kuat menampung berat manusia sebanyak itu. Perjalanan yang penuh dengan tawa tak seperti biasa memang menunjukkan soe itu berbeda.
Selain kehijauan yang menguasai pemandangan tempat itu, petir pun sedang berjalan mengelilingi dan mencari tempat singgasananya yang baru. “Alam sepertinya sedang marah”, celetuk teman ku. Tapi tak peduli, karena tertawa yang keluar dari mulut kami pun mengalahkan suaranya.
Kau mungkin tak perlu tahu bahan tertawaan kami selama perjalanan ini. Tapi tak apalah, semua akan kuberitahu. Mulai dari makanan, rumah pohon, internet, pemberian uang dari tulang, gaya berfoto sampai kalimat biasa yang ditambah logat khas tanah Batak semuanya menjadi pemicu adrenalin tertawa. Percalah pada ku, semua itu sangat lucu.
Petualangan di lokasi rumah pohon sore itu segera kami akhiri karena langit sudah tak lagi seputih awal kami tiba. Namun kisah kami belum berakhir. Aku mengajak mu untuk melihat kisah kami selanjutnya yang tak kalah seru dan menantang. Tak hanya itu, kisah ini juga meneguhkanku!

“Ahh… hujan ini main-main saja”, celetuk seorang kru kami dan ini pulalah yang membuat kami merasakan petualangan itu. Seolah ingin berbicara, alam tak tinggal diam dianggap kecil seperti itu. Seketika hujan lebat dan deras mengguyur hutan konservasi itu. Langkah molang dan teman-temannya yang dikendarain oleh pria-pria gagah nan minus sempat ingin terhenti. Minus kusebut karena kau akan tahu saat kamera dan fotografer yang meminta gaya centil dipenuhi oleh pria-pria itu. Tak luput juga aku.
Gas trusss… menjadi semboyan yang dipegang oleh pria yang sedikit angkuh yang ingin menembus besarnya volume air yang jatuh membasahi bumi sore itu. Sekali lagi, bukannya berhenti malah pacuan roda antara Molang, Mocam, Mocil dan Mohon berdesing menampilkan cipratan air yang naik karena putaran roda yang saling berkejaran. Kami tak mempedulikan betapa besarnya hujan itu.
Setelah berjuang menempuh perjalanan dan derasnya hujan, kami mendapati bahwa memang tepat kami berjalan dan meninggalkan lokasi itu. Karena kami mendapati cerahnya cuaca di sisi lain lokasi pegunungan yang menjadi rute perjalanan tak biasa ini. Di sekitar kami sawah ladang silih berganti. Alam luas lepas terlihat kaya tiada batas. Selalu sedia memberi pengajaran yang berarti bagi semua manusia di bumi ini. Manusia yang tak lagi menghargai betapa pentingnya alam ini.
Memang sisi hujan itu kembali menghampiri kami. Setelah berhasil mengabadikan jejak rekam dengan kamera hitam penuh seni. Tidak hanya datang tapi hujan kali ini seolah tak ingin berhenti. Delapan mahluk yang masing-masing berada diatas motor itu tak menghiraukan tetesan-tetesan itu karena pakaian yang sempat basah di badan pun belum menunjukkan tanda akan kering. Bukan berpikir untuk berhenti sejenak, semboyan Komunitas Intelektual Peduli (KIP) itu malah berkobar di hati yang tak lagi berkobar seperti awal memulai perjalanan ini. Yang ingin kami lakukan adalah berjalan dan berjalan untuk mencapai tujuan kami. Hanya satu. House of Joy (HOJ) tempat kami merencanakan dan memulai petualangan ini.
Lalu bagian mana yang meneguhkan ku? Hanya satu. Saat seseorang hidup dan menyadari tujuan akhirnya dengan benar maka dia akan hidup fokus dan mengerjakan apa yang harus dia kerjakan dengan baik. Sama seperti kami yang menyadari bahwa tujuan untuk sampi di HOJ menjadi bagian terutama dan berjalan melewati derasnya hujan menjadi sesuatu yang harus dilakukan, maka fokus untuk berjalan dan tidak menggenggam sesuatu di tengah jalan adalah sesuatu hal yang tepat untuk dikerjakan. Lakukanlah! Bagaimana dengan kamu? Sudahkah di tengah rintangan yang ada di dunia dan derasnya tekanan membuat mu tidak melangkah atau berhenti? Engkau hanya perlu tahu apa dan kemana arah hidup mu. Berjalanlah, Jangan Menyerah!

Kawe – Leuwi Liang, Maret dua puluh tujuh, 2010.
04.30 pm
Di Rumah Pohon dan Dibawah guyuran Hujan deras sore itu.

Mahkota Kemuliaan

Mahkota Kemuliaan

Oleh Redywan James Purba

“Tebih kene…sajam deuilah”, ceuksi ibu nu calik ti payunan bumi.
“Hatur nuhun ibu”, balas ku penuh senyum…

Perjalanan itu kami lanjutkan kearah yang diberitahukan oleh masyarakat desa kecamatan Cipatujah, Kabupaten Garut. Tidak hanya ibu yang sudah berumur itu, beberapa orang yang kami tanyakan berujar sama dengannya. Seolah-olah saling mendukung, mereka dengan yakin memberitahu jarak yang akan kami tempuh untuk sampai di lokasi yang kami cari.

Paradoks dengan mereka, kami justru semakin ragu dan cemas. Bagaimana tidak, perkiraan waktu yang diberitahu dan perkiraan kami begitu jauh perbedaannya. Tiga jam lebih mungkin sebanding untuk menyanggah kesalahan perhitungan waktu yang diberitahu warga desa itu.

Aku tak tahu, mungkin warga di sekitar situ memang tak tahu benar menebak waktu. Atau jangan-jangan si Vincent yang dikemudikan wanita berkaca mata itu berlari terlalu pelan? Bergosip hangat dengan wanita yang lain tentang ini dan itu? Mungkin juga.

Hah… Lupakan saja! Ujar ku menutup kisah yang tak menarik yang sedikit merusak kenikmatan perjalanan minggu itu. Tapi tunggu dulu, kau juga harus tahu apa yang kami lakukan di saat seperti itu! Berdiam diri? Melamun? Cemas seperti penjaga menantikan fajar pagi? Tentu tidak! Kami menikmati lagu dan menyanyikannya. Sekilas kau mungkin saja bisa menebak lagu kami. Lagu pengharapan yang dipimpin oleh ibu DPA kami. Menarik! Menggugah! Menguatkan! Juga memberi secercah harapan!

Tapi… lamanya waktu perjalanan itu tak kuasa membuat hati kami menjadi layu. Memprediksi tiba petang dan menikmati pantai tak lagi muncul dalam benak kami. Senja yang tertarik dan tergantikan oleh malam mulai menguasai daerah pantai selatan itu. Sudahlah mungkin kita harus melupakannya.

Setibanya disana…
Hidangan malam jenis sea food yang menggiurkan seolah membayar lunas perjalanan sore itu. Kami tahu lamanya penantian yang diewati terbayar lunas dengan kenikmatan yang tak terhingga. Menyantap! Kegiatan yang tak perlu lagi kujelaskan pada mu. Nikmat sekali! Luar biasa! Tak terungkapkan!

Begitu jugalah mahkota kemuliaan yang akan TUHAN anugerahkan bagi kita. Sekalipun kehidupan di dunia sepertinya akan sangat panjang dan melelahkan bahkan terkadang terlihat tanpa harapan, Dia menganugerahkan indah pada waktunya. Hanya berjalanlah! Lewatilah! Kerjakanlah segala sesuatu yang harus kita kerjakan selama di dunia. Jika waktunya tiba, Dia akan memberikan sesuatu yang tak ternilai bagi mu. Mahkota kemuliaan. (band Wah 2:10b, Wah 3:11; I Pet 5:4; Yak 1:12; 2 Tim 4:8)

Pangandaran, Maret-nol tujuh, 2010
Setelah makan malam di Fresy Seafood Bu Surman
10.00 pm

“Beritahu Aku Arti Keadilan Itu…”

“Beritahu Aku Arti Keadilan Itu…”
Oleh Redywan James Purba
Engkau memang benar, ya TUHAN, bilamana aku berbantah dengan Engkau! Tetapi aku mau berbicara dengan Engkau tentang keadilan: Mengapakah mujur hidup orang-orang fasik, sentosa semua orang yang berlaku tidak setia? (Yer 12:1)

Menatap kosong… Melompong! Tak bersuara! Terbangun… sebentar tertidur lagi! Lugu tapi tak lucu, namun tak ada yang membaca buku… Ahh mati gaya. Semua menunggu… Itulah mahasiswa di bis situ. Tapi tak begitu dengan ku. Sekalipun aku ada di tempat itu dan aku telah mengakhiri masa mahasiswa ku setahun yang lalu, jangan pikir aku ikut dalam perpaduan orang dalam bis yang meluncur dengan pelan di tengah derasnya hujan sore itu. Jika kamu berpikir begitu, berarti kau belum mengenal ku (ha…ha…ha… tertawa tanpa suara).

Lampu-lampu neon dan baleho melintas silih berganti. Semua orang menyingkir untuk berteduh karena hujan yang keluar dari awan yang tak sanggup menahan lagi gumpalan airnya. Lampu lalu lintas membuat bi situ berhenti sejenak. Perhentian itu membuatku melihatnya. Dengan jelas! Wanita sebaya usia belasan tahun masih berdiri menantikan belas kasihan pengemudi mobil mewah yang juga berhenti karena lampu pengatur itu. Dia tak sendiri. Seorang bocah balita tepat dipangkuannya. Menangis dan merintih kedinginan. Bocah itu tak kuasa menahan dinginya air hujan itu.

Aku berpikir dalam! Pikiran itu mengarahkan ingatan ku pada siaran berita pada hari ini. Berita yang menghiasi layar TV seharian ini. Mereka yang justru disibukkan dengan agenda sidang dan kepentingan partai. Mempermasalahkan bailout menjadi konsumsi utama yang seolah membutakan pikiran. Yang penting sidang berjalan! Semakin lama, semakin banyak tunjangan! “Ahh…parah “ kutirukan gaya ucapan seseorang yang biasa bersama ku. Ahh…Najong…sambut ku jika selalu mendengar kalimat itu.
Begitu kontras! Sedikit tidak adil! Berat sebelah! Lalu dimana keadilan dalam hidup? Apakah Tuhan salah? Mengapa keadaan seperti ini muncul? Atau jangan-jangan Dia tak tahu dan tak mau tahu?
Tidak! Dia tahu. Dia peduli. Allah berotoritas akan hal itu. Dan ada saatnya Dia mengerjakan bagian-Nya untuk sesuatu yang sedang kita lihat dan saksikan (Band Yer 12:7-17). Sekarang giliranmu! Apa yang kau lakukan?

“Neng”

“Neng”
Oleh Redywan James Purba

“Neng, maaf saya lupa kemarin, nanti saya anterin saja ke atas yah.” Tiba-tiba saja kalimat itu keluar dan aku mendengarkannya. Tapi, aku berusaha tak menoleh dan tak berespon. Karena kata itu sangat familiar bagiku. Aku berusaha melihat, tapi tak mungkin itu untuk ku. “Ahh, mungkin aku salah dengar kali yah..” pikirku dalam hati. Eh tunggu dulu, hanya aku orang yang ada di ruangan meja makan itu. Berarti kalimat itu ditujukan pada ku. Keesokan harinya dan sampai sekarang, itulah panggilan untuk ku oleh si bibi yang biasa kami panggil “teteh”. Tak hanya untuk ku, tapi untuk beberapa teman yang tinggal serumah dengan ku. Tapi tahu kah kalian bahwa semua yang tinggal di rumah adalah laki-laki. Aku berani jamin bahwa kami adalah laki-laki. Laki-laki sejati tentunya. “Hah, ya sudahlah”, gumam ku menenangkan pikiran ku yang terasa aneh.
Neng adalah kata dari bahasa Sunda untuk menyapa atau panggilan untuk wanita yang lebih muda dari usia kita. Tidak hanya untuk yang lebih muda, ingat! Kata itu diucapkan untuk seorang wanita. Penggunaan kata ini semakin umum digunakan kepada perempuan kecil, seperti tak berdaya, dan membutuhkan perlindungan. Pengertian ini semakin mengusik pikiran ku. Hah? Jika begitu kenapa aku dipanggil seperti itu? Aku tidak terima!
Lama-kelamaan, ucapan itu menjadi sangat biasa dan terdengar asyik juga. Walaupun aku tak bisa menyembunyikan tawa ku saat kata itu ditujukan bagiku. Bahkan mungkin ini adalah tahun ketiga aku mengenal teteh yang bekerja sehari-hari di rumah kami. Selama itu pula, seenaknya saja dia memanggil ku dengan kata “Neng”. Ahh, semakin aneh saja. Tapi mau gimana lagi. Aku tak berani untuk meminta si teteh untuk tidak memanggil ku seperti itu. Biarkan sajalah.
Lalu, aku terpikir. Kenapa aku tidak mau dipanggil seperti itu yah? Apakah mungkin karena aku terlalu mengerti makna kata itu? Bisa saja! Atau memang hanya risih dan aneh? Tapi seperti tak dapat kupungkiri, aku sedikit tidak senang saja.
Lalu waktu mengizinkan ku tuk hadir bersama mereka. Desa warna sari, Pangalengan Kabupaten Bandung Selatan. Di desa itu aku banyak menemukan orang-orang yang selalu di panggil semestinya dengan kata “Neng” itu. Yah mereka ada di desa itu. Mereka lucu-lucu, cantik, imut, dan juga lugu. Mereka tak seperti memikirkan sesuatu. Apa yang terjadi nanti, besok dan lusa. Ku lihat wajah polos dan penuh senyum setiap minggu di desa itu. Mungkinkah aku seperti itu? Hmmm… ingin rasanya. Kau tahu? Indahnya hidup seperti itu! Lalu aku berpikir. Aku ingin tetap di panggil seperti itu. Untuk mengingatkan ku bahwa ku tak perlu ragu akan hidup ku. Karena ada Dia yang setia mengerjakan yang terbaik untuk ku.
Selamat menikmati hidup yang penuh dengan senyuman yang tak akan pernah ragu akan hidup mu. Sekarang, besok, lusa dan nanti. Untuk ku, untuk mu, untuk kita semua.

“Didapati Hidup Bersih”

Didapati Hidup Bersih
Oleh Redywan James Purba

“Jangan sampai kotoran yang menempel itu dibersihkan yah, karena di akhir dari semua permainan ini nanti saya akan melihat kembali”

Kalimat itulah yang terus terucap dari sang penjaga pos di permainan itu. Memang tidak semua pos dipermaianan yang berlangsung sore itu. Hanya dia! Pria yang gagah namun sedikit cerewet yang memimpin pertandingan yang sedikit aneh itu. Jangan kan kepada semua tim, aku menduga kalimat itu diucapkannya lima hingga enam kali di tiap tim. Bosan sekali rasanya. Tapi ya mau gimana lagi! Jelas-jelas dia seorang mahluk yang sedikit cerewet. Mengulang kalimat sesingkat itu bukan pergumulan yang besar dan berarti baginya.
Kami pun tak membantahnya. Mengikuti, bahkan dengan bodohnya seperti terhipnotis melakukan semua perintah konyol itu. Betapa bodohnya kami untuk taat seperti itu.
Lalu akau melihat beberapa teman yang berbeda kelompok dengan ku namun begitu menikmati kekotoran yang ada padanya. Sejenak ku terdiam. Merenung… bertanya! Mengapa dia senyaman itu? Bukankah kotoran-kotoran itu membuat dia tidak nyaman? Kenapa justru dia begitu merasa nyaman? Aneh! Apakah ucapan pria cerewet yang sedikit ganteng itu terlalu menusuk ke relung hatinya sampai tak ingin memberontak ketika diminta untuk tetap kotor? Ahh… bodoh, pikirku.
Tapi aku sekali lagi tak bisa menerimanya. Selain karena kotoran yang diakibatkan permainan itu cukup mengganggu ku, aku pun tak nyaman menjadi orang yang kotor hanya karena permainan itu. Lalu ku teringat akan satu sisi kehidupan ku! Bukankah aku sering sekali mendapati diriku tidak bersih? Penuh dosa! Kotor! Mengapa justru terkadang aku merasa nyaman dengan kekotoran itu? Bukan kah Allah rindu aku berjuang untuk bersih? Ketika aku jatuh dan kotor, Dia selalu rindu aku datang untuk membersihkan kekororan ku?
Permainan itu memang mengingatkan ku akan satu hal yang penting. Tapi, tetap saja aku tidak mau diperlakukan seperti itu! Huh… bodohnya aku! Tapi tak apalah, semua sudah berlalu. Aku tak akan mengulang kebodohan itu. Dan ketika aku menyadari betapa kotornya hidupku, aku mau berjuang untuk menyelesaikannya di hadapan Allah. Dia rindu selalu! Mendapati ku hidup bersih!

Rom 16:19b Tetapi aku ingin supaya kamu bijaksana terhadap apa yang baik, dan bersih terhadap apa yang jahat.

Déu, encara em perdones?

Déu, encara em perdones?

“Sebuah perenungan Akhir Tahun”
Oleh Redywan James Purba


Lalu berpalinglah Tuhan memandang Petrus. Maka teringatlah Petrus bahwa Tuhan telah berkata kepadanya: "Sebelum ayam berkokok pada hari ini, engkau telah tiga kali menyangkal Aku."
Lalu ia pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya.

Aku terdiam… Kejatuhan itu membuat ku tidak berdaya. Hal itu terjadi bahkan setelah aku mengerjakan pelayanan yang seharusnya membuat ku semakin berserah kepada Nya dan menguatkan ku. Aku tak berdaya. Tertunduk malu. Tak sanggup ku mengarahkan pandangan ku. “Déu, encara em perdones?” sebuah ungkapan dalam bahasa Catalan yang berarti ; Tuhan, masihkah Engkau memaafkan ku?

Lalu aku membaca bagian itu. Saat Dia berpaling memandang Petrus. Palingan dengan tatapan yang tajam penuh kasih. Tatapan penuh darah yang mengalir melintas lesung wajah ditambah tubuh yang hancur. Yah… Dia baru saja dipukuli oleh para pengawal itu. Tidak hanya dipukul, siksaan awal terus mengenai tubuh itu. Bisakah kau bayangkan apa yang dirasakan Petrus saat tatapan itu mengarah kepadanya? Menangis! Sedih! Wajar saja itu dilakukannya, tapi bagiku yang berbicara di dalam hatinya hanya kalimat itu. “Déu, encara em perdones?”

Tak berapa lama, aku tertidur pulas. Sore itu aku harus beribadah karena adikku yang sedang berlibur ke Bandung lebih memilih bergereja sore. Tak seperti biasanya, aku bepergian tanpa motor kesayangan ku. Motor yang selalu bersama ku melewati keramaian kota Bandung. Sore itu aku memilih dan memang tidak ada pilihan selain naik angkutan umum. Di jalanan dengan kendaraan angkutan umum membuat ku gerah walaupun aku mencoba tenang-tenang saja. Bagaimana tidak gelisah? Ibadah mulai pukul 5 tepat. Jam 5 lebih 15 menit yang kulihat dari jam tanganku, kami masih berada di depan Rumah Mode. “wah”… pikirku. Sepertinya tidak mungkin lagi. Aku mulai berpikir untuk beribadah di gereja yang lebih sore. Akupun mengalihkan jurusan dengan berganti angkutan yang mengarah ke gereja yang berbeda. Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat di raih, supir angkutan umum yang seharusnya mengantarkanku dan adikku menuju gereja malah berbelok mengambil jalan pintas. Akupun harus segera turun dan berjalan kaki saja. Tapi, akhirnya kami bisa beribadah di perayaan Natal.

Kembali aku teringat kalimat itu. Setiap kali aku melakukan kesalahan dan semua itu membuat aku terdiam. Melewati tahun 2009 ini, akupun seolah tak mau menghitungnya. Entah berapa kali sudah aku memilih untuk melakukan dosa. Setiap kali itu terjadi, mungkin aku merasa bersalah. Tetapi tidak sekedar merasa bersalah, kali ini kalimat itu menambahkan rasa bersalah yang ada.

Mungkin aku dituntut harus hidup dengan benar selalu. Bahkan hidup yang seperti itu yang harus kubagikan pada orang-orang yang mengenal ku. Aku selalu berjuang untuk itu dan melakukan sesuatunya untuk bisa seperti itu. Tidak ada yang lain. Tapi seiring waktu berjalan dan tanggung jawab yang kurasakan, mengapa semakin hari aku semakin tidak hidup seperti itu? Sekali lagi ini menjadi pemikiran ku. Tak perlu dihitung sudah berapa kali aku mengecewakan Dia yang mempercayakan hidup padaku. Entah berapa kali pula aku mengecewakan orang-orang disekitarku. Aku pun semakin terdiam. “Déu, encara em perdones?”

Tak sanggup rasanya kutinggalkan tahun 2009 dengan pertanyaan itu. Sebenarnya di saat ibadah Natal yang kuikuti setelah berkeliling kota Bandung dengan tidak sengaja karena angkot yang membuat kesal itu sudah mengingatkan ku. Mengapa engkau berpikir seperti itu? Bukannya Aku datang ke dunia untuk menghapuskan pemikiran mu itu? “Déu, encara em perdones bukanlah kalimat yang tepat untuk mu, anak Ku” begitu aku disapa-Nya. "Mungkin terlalu sering bagimu untuk mengecewakan-Ku, tapi tak sepatutnya engkau berpikir seperti itu. Percayalah... Pengorbanan Ku terlalu sempurna jika hanya untuk itu."

Namun aku tidak hanya teringat tentang bagaimana aku jatuh dalam dosa itu, aku teringat sering kali aku tidak percaya pada rancangan yang sudah disiapkan Nya juga. Ditambah kekhawatiran semakin hari semakin menggerogoti iman ku. “ahh… Tuhan sepertinya kalimat itu memang pas untuk ku! “Déu, encara em perdones?” kondisi inilah yang membuat ku ragu. Dia berseru sama lagi: “Déu, encara em perdones bukanlah kalimat yang tepat untuk mu, anak Ku” sapa-Nya kembali.

"Tuhan...Bagaimana jika aku kembali jatuh dan merasa ragu?" Akankah kalimat itu menjadi pas untuk ku dikemudian hari? Dia tak menjawab ku. saat itu aku melihat ke atap langit gereja, Dia memandang ku. “Déu, encara em perdones bukan kalimat yang seharusnya engkau pikirkan. Saat engkau terjatuh dan mendapati diri mu berada di tempat yang sama, berserulah kepada Ku dan terus berjuang sampai engkau bisa melewatinya. Aku menolong mu.” Jawaban itu cukup bagi ku.

Natal itu mengingatkan ku. Apa bagian yang paling sering membuat engkau ragu akan rancangan-Ku? Aku tak kuasa menjawab pertanyaan itu. Karena memang 7 tahun terakhir hidupku selalu berbicara tentang itu. Keseluruhan kekhawatiran dan kegagalan ku membuatku merasa bersalah. Aku tertunduk! Lesu! Tak banyak berbicara! Hanya alunan musik dalam gedung gereja itu yang mengajak ku berbicara.

Ku mengangkat wajah ku
Memandang keindahan Mu Yesus
Syukur bagi kesetiaan Mu
Disepanjang hidup ku
Dan kuangkat tangan ku
Ke tahtah kasih dan karunia Mu
Tak sekalipun Kau tinggalkan
Yesus Sahabat ku

Lagu itu terasa mengingatkan ku. Mengapa aku masih tetap memiliki pemikiran itu. Kalimat itu tak seharusnya menjadi beban pikiran ku. Sudahlah... Bukankah Ia sendiri sudah mengatakannya untuk mu?

Mengawali tahun 2010 ini, aku kembali membaca bagian yang lain. Saat Petrus kembali bertemu dengan Yesus. Kata Yesus kepada-Nya untuk ketiga kalinya: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” maka sedih hati Petrus untuk ketiga kalinya: “Apakah engkau mengasihi Aku?” Dan ia berkata kepada Nya: TUHAN, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba- Ku”

Bagian ini meneguhkan ku. Sekalipun aku tak selamanya baik, aku selalu ditunggunya untuk berjuang dan mengerjakan yang seharusnya kukerjakan. Kiranya perjuangan untuk hidup yang seperti itu meneguhkan untuk mengawali tahun yang baru.

Selamat Tahun Baru. Tuhan memberkati... :)

Berlari dan Kelelahan

“Berlari dan kelehan”

Oleh : Redywan James Purba
Sebuah perenungan dalam perjuangan ketika berlari…

Tertunduk… lesu… melangkah hingga terjatuh. Tak kuasa kulangkahkan kaki ku bahkan untuk meraih sesuatu. Semua karena aku sudah melakukan hal itu. “Berlari” dan membuatku lelah dan rapuh.
Mungkin kau bertanya! Berlari? Berjalan dengan kecepatan yang lebih? Langkah yang lebih jauh dari biasanya. Memangnya lagi terburu-buru? Atau sedang mengejar sesuatu? Sudahlah…bukan itu yang kumaksud. Berlari itu bagiku sebagai makna konotasi ‘terlalu mengerjakan banyak”. Jika kau tidak setuju, anggap saja begitu karena ini tulisan ku, maka kaupun harus memakluminya.
Tanpa sadar, semua itu memeras tenaga ku. Keletihan mungkin ‘ya’ tapi lebih tepatnya aku ‘kelelahan’. Lagi-lagi bertanya perbedaan kata itu? Buka saja Kamus Besar bahasa Indonesia (KBBI). Jika tak punya, main saja ke kamar ku. Di situ ada terlihat dan terletak di atas meja. Bukan punya ku, tapi bisa kau baca karena itu punya teman sekamar ku.
Lalu apa yang membuat “perpacuan kedua kaki “ itu seolah-olah menjadi pikiran dan topik utama hidup mu? Tak lain lagi karena itu meluluhlantahkan kehidupan yang sedang berjalan bagi ku. Bertanya lagi hal apa yang kulakukan? Percaya saja yang kulakukan itu penting dan berarti. Punya dampak banyak dan seratus persen bermanfaat bagi orang-orang di sekitar ku. Tapi yang menjadi masalah adalah aku kehilangan dan melepaskan konsumsi pribadiku. Akan kebutuhan utama dalam hidupku. Waktu berlari itu menyedot semua waktu teduh dan arah pandangan ku.
Ku tak ingin engkau merasakan dan melakukan kesalahan yang sama seperti yang kulakukan. Tapi sudahlah! Semua sudah berlalu. Aku sudah tak berlari secepat itu. Bahkan aku sudah menghentikan langkah kaki ku sejak hari itu. Menikmati hidup ku dalam kesendirian dan seolah-olah tanpa kecepatan. Terima kasih sudah mengingatkan ku, memperhatikan ku dan juga memberi waktu untuk ku…

Jatinangor, HOJ tercinta. Februari 2010.

Ketika semua yang terlintas tak sempat terucap...

Maka muailah menuliskannya
Mengejar sesuatu yang telah berlalu tak akan membuat kita merasa dapat memperbaiki masa lalu
Tuliskanlah...