Tampilkan postingan dengan label A. RENUNGAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label A. RENUNGAN. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 Mei 2012

"Loyalitas Tak Berdasar”  

Oleh Redywan James Purba

Anda pasti ingat cerita Petrus. Lantang! Gagah! Tak takut pada pemerintah Roma yang kuat. Dia meminta Isa untuk tidak jadi mengorbankan diri-Nya. Petrus tak ingin DIA mati! Petrus tak tahu apa yang dikerjakannya? Anda Salah! Dia tahu. Dia sangat tahu. Dia loyal kepada-Nya. Namun sayang, dia tak sadar loyalitasnya  menentang tujuan utama Isa hadir ke dunia.

Berapa banyak orang di dunia tahu loyalitas yang mereka miliki? Saya berharap banyak namun sebaliknya. Setidaknya itulah yang terjadi di negeri yang katanya masih punya harapan ini.

Di sisi lain, kita melihat orang yang merasa hidup loyal. Hidup setia. Rutinitas keagamaan hebat. Merasa menikmati berkat melimpah dari Sang Khalik. Tetapi sayang, Sang Khalik memiliki tujuan utama memberi hidup-Nya bagi dunia yang merasakan ketidakadilan. DIA bahkan rela menanggung semua dosa agar dunia merasa kebebasan sejati.

Selamat merenungkan loyalitas yang sedang Anda jalani. Wassalam…


                                                                                                                 Jakarta, Mei-duasatu, 2012

Selasa, 16 November 2010

Benih di Jalan, Tanah Bebatuan, Semak Berduri atau Tanah Subur

Benih di Jalan, Tanah Bebatuan, Semak Berduri atau Tanah Subur
Oleh Redywan James Purba

Terlalu lama melihat benih itu tumbuh! Apakah benih itu mati? Terkadang tak sabar melihatnya bertumbuh. Padahal sudah kukerahkan semua daya upaya ku. Aku malah jadi bertanya, apakah kemarin terjatuh di jalanan saja? Tanah berbatu atau di semak duri?

Awalnya aku berharap dia terjatuh di tanah subur dan seingat ku aku sudah menabur dengan cara yang benar dan mengarahkan pada tempat yang seharusnya. Tapi kenapa begitu lama? Ahh… sudahlah, gumam ku meredakan gelisah.

Jika memang sudah tentu tak akan sirna. Hanya perlu member waktu menyianginya. Bekerjalah selagi hari masih siang dan terus ada. Hingga saatnya tiba, 30, 60 sampai 100 kali ganda tuaian kan tiba tuk dituai para pekerja selanjutnya.

Cirebon, November dua belas – 2010
15.00 WIB
* dalam perenungan yang dalam akan sebuah kegundahan

Minggu, 04 April 2010

- perquè ell és viu i ressuscitat perquè pugui enfrontar el demà -

- perquè ell és viu i ressuscitat perquè pugui enfrontar el demà -
Oleh Redywan James Purba

“Mengapa kamu mencari Dia yang hidup diantara orang mati? Ia tidak ada disini, Ia telah bangkit.”
Luk 24:5-6

Aneh! Kubur itu sudah tidak lagi tertutup. Batu besar yang sebelumnya terlihat perkasa menutup pintu tempat itu sudah terguling. Tak jelas kearah mana bergulingnya tapi yang jelas sudah tak lagi menutup pintu masuk kubur itu. Bukankah pintu itu dijaga ketat oleh tentara Roma dengan berbagai alasan?
Tak…tak…tak…
Mereka mencoba masuk perlahan.
Berdiri saling berhadapan dan termangu-mangu…

Mereka juga sedikit merasakan suasana yang berbeda. Awalnya mereka hanya ingin mempersembahkan semua yang mereka bawa di depan kubur itu. Karena memang tak mungkin mereka bisa masuk jika saja batu itu tidak terguling. Tapi tidak! Mereka diberi kesempatan melihat Kristus yang telah bangkit.
“Mengapa kamu mencari Dia yang hidup diantara orang mati? Ia tidak ada disini, Ia telah bangkit.”

Mereka tak dapat memberi jawab atas ucapan orang yang berdiri di seberang mereka. Mereka mengingat ucapan Pria yang dulu mereka ikuti. Hanya ada satu respon. Meninggalkan kubur itu. Berlari… Berlari kencang… Semakin lama semakin kencang…
Setibanya di sebuah ruangan, mereka menceritakan apa yang baru saja mereka lihat. Semua heran. Semua termangu sebagaimana mereka pada awalnya termangu. Ada yang percaya ada yang tidak. Ada yang percaya setelah dia berangkat ke kubur itu juga. Namun, ketiga wanita itu semakin yakin. Mereka mulai berdoa dan menghidupi arti sesuatu yang mereka lihat. Berseru dalam hati : perquè ell és viu i ressuscitat perquè pugui enfrontar el demà. Sebuah ucapan bahasa Catalan yang berarti “Karena Dia telah hidup dan bangkit, maka ku dapat menghadapi hari esok”
Dalam perayaan paskah kita setiap tahun, mungkin selama engkau menjadi orang Kristen. Sering sekali perayaan membuat dirimu hanya sebatas perayaan dan hanya menjadi pribadi yang tak melihat dan merasakan arti kebangkitannya, tapi biarlah kiranya Paskah di tahun ini membuat engkau melihat dan diberi kesempatan melihat Kristus yang benar-benar bangkit. perquè ell és viu i ressuscitat perquè pugui enfrontar el demà.

Selamat Paskah… Tuhan memberkati…

Jumat, 02 April 2010

“BERI DAN LAKUKAN YANG TERBAIK”

“BERI DAN LAKUKAN YANG TERBAIK”
(Mat 26:6-13; Mrk 14:3-9; Yoh 12:1-8)

“datanglah seorang perempuan kepada-Nya membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi yang mahal. Minyak ini dicurahkannya keatas kepala Yesus, yang sedang duduk makan ”
Mat 26:7
Oleh Redywan James Purba S.Psi

Enam hari sebelum Paskah, Yesus tiba di Betania. Di rumah simon si kusta. Pada saat itu melakukan perjalanan dan mungkin masih akan melanjutkan perjalanannya. Tiba-tiba datanglah wanita itu dan mendekat kepada Yesus. Namanya Maria. Perhatikan apa yang dia bawa dan apa yang dilakukannya! Dia membawa buli-buli berisi minyak wangi yang mahal, dan mencurahkannya ke atas kepala Yesus dan seluruh ruangan menjadi harum.
Kata “mencurahakan” berarti melakukan atau memberikan dengan totalitas. Sebagai contoh seseorang yang mencurahkan hati dan pikirannya untuk membantunya dalam kesulitan melakukannya secara total dan penuh dengan kesungguhan. Wanita itu datang dengan minyak mahal lalu meminyaki Yesus dengan sungguh dan sepenuh hati. Tak ada yang meragukan kesungguhan Maria ketika melakukan itu.

Namun, tak semua orang suka dengan apa yang dilakukannya. Lihat saja murid-murid itu. Mereka mengatakan bahwa hal yang dilakukan oleh Maria adalah sebuah pemborosan dan memarahi dia dan mereka membandingkan pemborosan yang mereka sebut dengan perkiraan jumlah harga yang di dapat (Ayat 8 dan 9). Mungkin memang beralasan sebab minyak itu harganya mencapai 300 dinar lebih atau lebih dari gaji satu tahu (more than a year’s wages). Bisakah anda bayangkan betapa berharganya minyak itu?
Standar nilai murid akan uang sangat baik. Salah satunya adalah Yudas yang aan menyerahkan Dia. Berapa harga Yesus? Yudas menghianati Yesus dan menjualnya dengan 30 uang perak atau sama dengan 120 Denarii (1 Denari dikatakan upah seorang buruh satu hari). jika di hitung 1 tahun 365 hari maka harga minyak itu sekitar 365 Denarii dan penjualan seorang Yesus belum melebihi harga minyak Narwastu tersebut. Paradoks bukan?
Saudara-saudara apa artinya? Maria dengan segenap hatinya membeli minyak itu sebagai ganti hidupnya yang ingin ia persembahkan kepada Allah. Maria melakukan ini saat menjelang Yesus akan disalibkan dan mati di kayu salib. Keluarga Maria terdiri dari Maria, adiknya Marta dan Lazarus. Sekalipun Maria tidak kaya, ia tetap membeli minyak 300 dinar lebih yang digunakannya mengurapi Yesus. Kalau kita bandingkan penjualan Yesus yang hanya 30 uang perak oleh Yudas maka minyak itu jauh lebih mahal. Itu artinya Maria telah menjual dirinya, karena minyak narwastu itu adalah Maria sendiri dengan segala hal yang ia miliki dan ia mau persembahkan kepada Tuhan.
Mengapa Maria melakukan ini? Pertama, Maria telah melihat pekerjaan Tuhan dalam dirinya dan keluarganya (adiknya Lazarus) dan sering berkunjung kerumahnya di Betania. Kedua, Maria tahu bahwa Yesus akan mati bagi-Nya. Alasan yang kedua inilah yang menjadi hal yang utama. Berbeda dengan murid-murid Yesus yang lain yang telah dikatakan Yesus bahwa ia akan mati (16:21; 17:22-23; 20:17-19; 26:1-2) namun mereka sepertinya tidak mengerti.
Menyadari bahwa Kristus akan mati di kayu salib, Maria ingin mengurapinya sebelum dia disalibkan. Mungkin setelah Yesus mati banyak orang yang ingin mengurapinya dengan minyak, mur dan kemenyan. Namun, Maria tidak mau melakukan itu setelah Yesus mati, karena itulah Maria mau mencurahkan segala-galanya untuk Tuhan sebelum Dia mati.
Pada hari pertama dalam satu minggu itu, yaitu setelah Yesus dimakamkan, banyak perempuan yang pergi ke makam Tuhan Yesus dengan maksud mengurapi Tuhan Yesus, tetapi mereka sudah terlambat. Hanya ada satu perempuan yang tidak terlambat, karena hanya dia yang mengetahui kematian Tuhan Yesus. Hanya dia yang mempersembahkan, memberikan dan melakukan sesuatu yang terbesar dalam hidupnya kepada Tuhannya sebelum waktunya terlambat.
Apa respon Yesus melihat apa yang dilakukan Maria? Dia berkata bahwa Maria telah melakukan perbuatan baik pada-Nya dan membuat suatu persiapan atas penguburan Yesus. Sekali lagi, Maria mengetahui bahwa Yesus akan mati. Oleh karena itulah Maria tidak ingin terlambat mempersembahkan hidupnya, mempersembahkan seluruh yang dia miliki dan mempersembahkan hidupnya bagi Allah.
Bagian akhir dari perikop ini, Yesus membuat pernyataan yang mungkin jarang diucapkan Yesus untuk menghargai dan mengingat Maria yang memberikan yang terbaik dari hidupnya.

Ketika bertanya tentang mencurahkan segenap hidup kita kepada Allah, pertanyaan inilah yang seharusnya terus ada. Memberikan dan melakukan yang terbaik selama hidup melalui pekerjaan kita, studi kita, keluarga dan hal lain yang Dia percayakan untuk kita lakukan. Mungkin kita tidak punya banyak hal yang bisa kitavberikan! Mungkin kita tidak punya banyak uang atau mungkin juga kita tidak punya banyak hal yang lain tapi kita bisa memberikan waktu, tenaga, pemikiran dan ide untuk membangun kesatuan tubuh Kristus di Gereja, di persekutuan kampus atau kantor dan juga dimasyarakat kita. Tuhan tidak menuntut sesuatu yang lebih melebihi apa yang kita miliki. Pertanyaannya, maukah engkau memberikan dan melakukan yang terbaik itu?

Penulis adalah Staf Perkantas Jawa Barat.

Renungan Warta GKPS Bandung Timur Edisi365/VI/2010

“Kesetiaan di Tengah Kungkungan Krisis Zaman”

“Kesetiaan di Tengah Kungkungan Krisis Zaman”
Daniel 3:1-30

Oleh Redywan James Purba


berkatalah Nebukadnezar kepada mereka : ”Apakah benar, hai Sadrakh, Mesakh dan Abednego, bahwa kamu tidak memuja dewaku dan tidak menyembah patung emas yang kudirikan itu?”
Daniel 3:14



Kitab Daniel secara khusus pasal 3 hingga 5 berbicara tentang masa-masa pendidikan yang dialami oleh Daniel, Hananya, Misael dan Azarya bersama dengan orang-orang pintar yang direkrut oleh Raja Nebukadnezar. Di tengah masa pendidikan yang mereka lalui, banyak pengalaman dan tekanan yang dialami oleh mereka.
Pasal 3 kitab Daniel diawali saat Raja Nebukadnezar mendirikan sebuah patung sebagai bentuk kesombongan (1-3). Selanjutnya Raja menyuruh semua orang untuk menyembah patung tersebut (4-7). Berbeda dengan seluruh orang yang menyembah patung buatan Raja, tiga sahabat Daniel yaitu Hananya, Misael dan Azarya tidak melakukan seperti apa yang diperintahkan raja. Lalu, atas tuduhan orang-orang Kasdim yang tidak menyukai mereka, para seteru itu melaporkan mereka kepada raja Nebukadnezar (8-12). Ada 3 tuduhan yang diberikan kepada mereka
1. Tidak mengindahkan titah raja
2. Tidak melayani dewa Tuanku raja
3. Tidak menyembah patung emas
Setelah sebelumnya mengangkat ketiga sekawan itu menjadi pemimpin wilayah Babel dan mengubah nama Hananya (Tuhan menunjukkan anugerah), Misael (Siapakah seperti Allah) dan Azarya (Tuhan menolong) menjadi Sadrakh (Hamba ’aku’), Mesakh (Siapakah seperti ’aku’) dan Abednego (Hamba ’nego’), Raja Nebukadnezar juga menginginkan mereka untuk menyembah patung emas yang dibuatnya sendiri. Oleh karena itulah raja Nebukadnezar sekali lagi mengkonfirmasi sekaligus menekan melalui ancaman yang diberikannya kepada mereka bertiga. Ancaman sekaligus tekanan ini juga berarti sebuah jalan ’kompromi’ bagi mereka.
Raja nebukadnezar memberikan jalan kompromi dan ancaman. Komprominya : ”Jika kamu bersedia, ..., sujudlah!” ancamannya : ”Jika kamu tidak menyembah..., mati!” Kompromi dan ancaman ini dikeluarkan untuk memojokkan mereka bertiga dan mereka menuruti keinginan untuk berbuat dosa.
Yang menarik sekali adalah bagaimana Sadrakh, Mesakh dan Abednego memberikan jawaban kepada raja atas ancaman itu.
”Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini. Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.”

Tekanan dan ancaman dari raja Nebukadnezar dijawab dengan iman dan penyerahan kepada Allah. Sadrakh, Mesakh dan Abednego mengimani bahwa Allah yang mereka layani adalah Allah yang sanggup melepaskan dari perapian yang menyala-nyala dan melepaskan dari tangan raja Nebukadnezar. Ini adalah wujud iman yang benar kepada Allah. Di tengah-tengah himpitan dan tekanan dunia, mereka mengimani bahwa Allah akan menolong hidup mereka. Begitulah seharusnya ketika kita hidup di tengah kungkungan krisis zaman saat ini. Orang-orang Kristen harus mengimani bahwa Allah sanggup melepaskan dari segala tekanan yang ada.
Yang kedua adalah bagimana Sadrakh, Mesakh dan Abednego menyerahkan diri kepada Allah terhadap apa yang akan terjadi. Mereka meyakini sekalipun Allah pada saat itu tidak menolong mereka, penyerahan diri total hanya diberikan kepada Allah pemilik hidup mereka. Mereka berserah kepada kehendak Allah terhadap apa yang akan terjadi. Pada saat seperti itu, mereka masih dihadapan raja dan belum dilepaskan namun mereka percaya bahwa Allah yang akan melepaskan mereka.
Wujud iman dan penyerahan seperti ini begitu nyata dilakukan oleh mereka. Di tengah-tengah kenyataan tantangan hidup dan kematian yang diperhadapkan pada mereka mereka menunjukkan siapa mereka sebenarnya, yaitu anak-anak Allah. Anak-anak Allah yang setia kepada Allah dan firman-Nya. Mereka percaya bahwa Allah sanggup melepaskan dari ancaman raja, dan juga memberikan reserve: seandainya Allah tidak melepaskan (pada saat itu), mereka tetap tidak menyembah patung yang dibuat raja. Mereka lebih rela menderita aniaya daripada berdosa kepada Allah.
Tantangan hidup yang demikian masih ada hingga saat ini. Masa dimana anak-anak TUHAN diperhadapkan pada tantangan yang nyata dalam hidupnya. Di lingkungan kampus kita, lingkungan tempat tinggal kita, juga di dalam wadah pelayanan yang kita kerjakan. Kita sering diperhadapkan pada pilihan-pilihan yang menyakitkan, pilihan yang sepertinya tidak adil. Begitu banyak tekanan hidup yang dirasakan oelh saudara-saudara kita di berbagai tempat di negara ini. Tantangan itu pun akan kita hadapi ketika kita hidup. Pertanyaannya, akankah kita tetap setia untuk beriman dan berserah kepada Allah.
Sadrakh, Mesakh dan Abednego memilih untuk setia kepada Allah. Mereka rela menderita dan akhirnya dimasukkan ke dalam perapian yang menyala-nyala (Fiery Furnace). Allah menolong mereka di dalam perapian itu dan mereka seolah-olah tidak tersentuh lewat api yang dibuat 7 kali lebih panas dari biasanya (19). Apa yang membuat hal ini terjadi? Tidak lain karena Allah sanggup dan Allah berkuasa mengubah segala sesuatunya. Mengubah api yang merupakan pemusnah dan ketakutan bagi banyak orang menjadi sesuatu yang tidak memiliki kekuatan apa-apa untuk membinasakan hidup mereka.
Melalui kejadian itu, raja Nebukadnezar sekali lagi melihat kuasa Allah yang hidup. Dia memuliakan Allah yang disembah oleh Sadrakh, Mesakh dan Abednego dan memberikan kedudukan yang tinggi kepada mereka. Kehidupan Sadrakh, Mesakh dan Abednego menjadi sebuah kesaksian yang hidup yang dialami oleh semua bangsa yang ada saat itu. Allah berkuasa di atas segala sesuatu karena Dia adalah pemilik segala sesuatu dan Allah menyatakan kuasa dan perlindungan bagi semua orang yang setia kepada-Nya. Menyatakan kesetiaan di tengah tantangan yang dihadapi sekalipun tantangan itu terlihat menakutkan. Jika kita setia maka Allahpun akan dipermuliakan oleh semua orang.
Saudara-saudara, seberapa sering kita menghadapi tantangan dalam kehidupan kita? Seberapa sering kita tetap menyatakan kesetiaan kita untuk beriman dan berpengharapan hanya kepada Allah? Seberapa sering kita berani hidup menderita demi menyatakan Kristus di tengah-tengah lingkungan masyarakat, kampus dan pelayanan kita? Mungkin kita sering bahkan terlalu sering meninggalkan Dia disaat tantangan hidup itu menekan berat, berkompromi disaat kehidupan serasa tidak lagi meyenangkan dan menyerah kepada beban hidup yang kita alami.
Sadrakh, Mesakh dan Abednego memilih untuk tetap setia menyatakan iman dan pengharapannya kepada Allah di tengah tantangan dan tekanan di zamannya, pertanyaannya, maukah kita menunjukkan wujud hidup yang telah ditebus Allah di tengah krisis zaman saat ini? Mari kita sama-sama berjuang menyatakan Kesetiaan di Tengah Kungkungan Krisis Zaman ...


Penulis adalah TPS Senior Pelayanan Perkantas Jawa Barat

Bahan Bacaan

Subekti, Timotius ”Tafsir Daniel, Nubuat Akhir Zaman” Penerbit Yayasan ANDI, Yogyakarta, 1994.

_____, “The NIV Study Bible”, Zondervan Publihing House, 1985.

_____, “The NIV Serendipity Bible for Study Group” Second Edition, Zondervan Publishing House, 1989.

PA Pribadi Oktober 2008.


Renungan Disciples Jatim

Apakah Engkau Mengasihi AKU? Gembalakanlah domba-domba-KU

Apakah Engkau Mengasihi AKU?
Gembalakanlah domba-domba-KU

Oleh Redywan James Purba

Bagian ini sering sekali menjadi perenungan kita. Dalam pelayanan yang kita kerjakan, seharusnyalah pertanyaan ini kita renungkan. “ do you truly love Me more than this?“. “Truly love Me“ diartikan dengan mengasihi dengan total, mengasihi dengan keseluruhan apa yang kita miliki.
Yohanes 21:15-19 adalah perikop yang mengangkat topik tentang komunikasi Tuhan Yesus dengan Petrus. Dalam Na International Version, perikop ini dituliskan “Jesus reinstate Peter”. Sebanyak tiga kali Tuhan Yesus bertanya kepada Simon Petrus. Apakah Engkau mengasihiKu? Pertanyaan ini yang mengingatkan Petrus akan hal apa yang telah dilakukannya. Dia pernah menyangkal Yesus sebanyak tiga kali. Namun pada bagian ini, Yesus sekali lagi tidak melihat kesalahan Petrus sebagai bagian yang memvonis dirinya atau mengingatkan Petrus akan semua kegagalannya. Namun Dia meneguhkan Petrus kembali dan akhirnya Petrus melihat ini sebagai sebuah kesempatan yang diberikan Allah.
Mengapa Yesus berkata kepada Petrus untuk menggembalakan domba-dombaNya? Karena Petrus berkata bahwa dia mengasihi Yesus. Jika Petrus berkata, bahwa dia tidak mengasihi Yesus, maka mungkin Tuhan tidak akan berkata demikian. Mungkin Yesus akan berkata, “baiklah selamat melanjutkan hidupmu”, “selamat bersenang-senang dengan hidupmu”, “selamat melalui hidupmu,” atau yang lainnya. Tapi “Tidak” saudara-saudara. Petrus berkata “Ya” dan akhirnya Petrus melayani Yesus dengan seluruh hidupnya.
Berbicara tentang melayani Allah, saya selalu diingatkan tentang motivasi dan kesungguhan. Beberapa bulan belakangan ini saya sedang bergumul serius dalam mendoakan untuk terus bergabung dalam pelayanan siswa. Banyak hal yang membuat saya berpikir, masihkah Tuhan memanggil untuk terus mengerjakan pelayanan siswa ini? Tidak jarang saya berpikir bahwa saya akan selesai dalam mengerjakan bagian pelayanan di pelayanan siswa. Banyak hal juga yang terus meneguhkan saya untuk tetap ambil bagian dalam pelayanan yang Allah anugerahkan ini.
Sekilas memang jika kita renungkan hal seperti ini sepertinya mundur dari sebuah pelayanan yang Allah anugerahkan, namun seiring waktu-waktu saya menggumulkannya, saya mendapati bahwa memang seharunyalah kita terus bertanya dalam diri kita sendiri apakah kita mau melayani Allah dengan sungguh-sungguh.
Saya mengajak untuk melihat kembali diri kita saat ini. Sudah berapa banyak pelayanan yang kita lakukan. Berapa banyak yang kita lakukan lewat kepanitiaan Retreat, persekutuan, visitasi ke sekolah-sekolah atau pelayanan lainnya. Lupakan sejenak semua itu. Mari kita kembali bertanya kepada diri sendiri. Apa yang membuat kita melakukannya? Jika bukan karena kasih kepada Allah, maka semuanya itu akan sia-sia. Mengapa kita mengasihi Allah, tidak lain karena Allah terlebih dahulu mengasihi kita. Allah terlebih dahulu memberikan hidupnya bagi kita lewat mati di kayu salib, mati menanggung dosa-dosa kita, menanggung semua penderitaan yang seharusnya kita tanggung.
Merenungkan semua pertanyaan dan arti pelayanan secara pribadi, saya akan selalu teringat akan sebuah lagu ini.



Pernahkah kau coba mengarungi
Lautan luas yang tak terjaga
S’perti Aku mendaki golgota
Bersimbah peluh bercampur darah.
Semuanya Kuperbuat bagimu
S’bab Aku sangat mengasihimu
Sekarang Ku beri kuasa padamu
Tuk sampaikan berita kasih-Ku
Banyak jiwa dalam kegelapan
Berikan terang kepadanya
Jangan takut dan janganlah ragu
Ku sertamu sampai akhir zaman
Kini kudatang dalam hatimu
Ingin kubertanya kepadamu
Apakah kau mengasihi Ku
Lebih dari segalanya.

“Apakah kau mengasihi Aku lebih dari segalanya“. Lagu ini terus menantang dan mengingatkan saya. Ketika saya ingin melayani Allah, ketika saya ingin mengerjakan pelayanan bagi Allah, sudahkah saya melakukannya karena saya mengasihi Dia dengan kasih yang melebihi dari apapun.
Saat ini Tuhan bertanya kepada kita orang-orang yang melayani siswa, melayani orang-orang muda, kita yang dahulu pernah melayani siswa dan juga orang yang melayani Dia dalam segala hal yang kita lakukan saat ini, “Apakah engkau mengasihi Aku?” jika engkau menjawab “ya” maka saat ini Tuhan berkata “Gembalakanlah domba-domba-Ku”

Renungan ILUMINASI TPS BANDUNG
Edisi 6 - 2008

”Pergilah dan Perbuatlah Demikian”

”Pergilah dan Perbuatlah Demikian”
Oleh Redywan James Purba

Jawab orang itu: ”Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.”
Kata Yesus kepadanya: ”Pergilah, dan perbuatlah demikian!”
Lukas 10:37

Dalam satu kutipannya, Dennis Prager mengatakan ’hanya satu kebahagiaan hidup, mengasihi dan dikasihi’. Sepintas memang benar bahwa itulah kebahagiaan hidup yang paling berarti di dunia dan saya menyetujuinya. Berapa banyak orang yang ada di dunia yang tidak bahagia hanya karena tidak ada orang yang mengasihi mereka dan tidak ada orang yang ingin mereka kasihi. Mengasihi dan dikasihi! Pertanyaannya, mengasihi siapa?
Jika kita perhatikan dalam perikop Orang Samaria yang murah hati (The Parable of the Good Samarian) dalam Lukas 10:25-37, kita akan menemukan satu kejadian yang menarik dari perumpamaan Tuhan Yesus. Pada saat orang yang sedang melakukan perjalanan dari Yerusalem ke Yerikho itu dirampok, dipukul dan ditinggalkan setengah mati, ada tiga orang yang melihat dan melewati jalan itu. Mereka adalah seorang Imam, seorang Lewi dan orang Samaria.
Imam (Priest) adalah orang yang biasa menjadi penghubung antara Allah dan manusia dalam pelaksanaan ibadah. Mereka adalah representatif Allah (God’s representative). Seorang Lewi (Levite) yang biasa adalah asisten para imam dan sering disebut sebagai contoh dari kebenaran (examples of rightteousness) . Kita berharap bahwa dari antara merekalah yang akan nantinya menolong orang yang hampir mati tersebut. Kenyataannya ’Tidak!” mereka hanya melewati dan membiarkan orang itu tergeletak di jalan dan tidak menghiraukannya.
Sebaliknya orang Samaria (Samaritan), yang dalam kehidupan sehari hari tidak bergaul dengannya, hatinya tergerak oleh belas kasihan kepada orang tersebut dan menolong dia. Yang menarik adalah wujud dari belas kasihan seorang Samaria tersebut,

Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya.
Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali.

Jika kita perhatikan dengan baik, maka kita akan melihat berapa besar pengorbanan yang dilakukan oleh orang Samaria tersebut kepada orang yang menjadi “musuh”nya. Merelakan persediaan obatnya terpakai, minyak dan anggur, menaikkan orang tersebut keatas keledainya dan diapun berjalan kaki, membawa ke penginapan dan membayar sendiri biaya dan bersedia membayar keseluruhannya. Sekali lagi untuk orang yang tidak dikenalnya, orang yang tidak memiliki ikatan darah bahkan mungkin musuh bagi kaumnya.
Saudara-saudara bagaimana dengan kita? Orang yang mengaku percaya dan memiliki kasih itu? Bagaimana kita menyatakanya? Kasih kepada orang-orang yang mungkin bukan saudara kandung kita, bukan orang yang kita kenal sebelumnya. Orang-orang yang berada di sekitar kita. Di lingkungan dan kampus kita, bahkan teman-teman persekutuan kita. Teman-teman yang dipercayakan untuk menjadi pemimpin KTB melihat kepada AKTBnya, bukankah mereka orang yang pantas untuk dikasihi. Di peringatan hari kasih sayang dan bukan hanya pada hari ini saja mari kita menyatakan kasih itu kepada orang-orang disekitar kita. Sekalipun kita harus mengorbankan beberapa hal dari apa yang kita miliki, “Mari memiliki belas kasihan seperti seorang Samaria.” Karena Kristus sendiri yang terlebih dahulu menyatakan kasih yang utama dan Dia memerintahkan kita “Pergilah dan Perbuatlah Demikian!” Selamat Hari Kasih Sayang.


Renungan Yobel PMK 3 UNPAR
Edisi feb - Maret 2009

“Mengasihi orang lain membutuhkan hati yang taat kepada Allah”

“Mengasihi orang lain membutuhkan hati yang taat kepada Allah”
Oleh Redywan James Purba

Kasihilah Tuhan Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu
dan dengan segenap kekuatanmu”
Ulangan 6:5

Sullivan Balou adalah seorang pajurit yang tewas dalam perang saudara di Bull Run, Amerika Serikat. Saat dia menyadari bahaya yang mengancamnya, dia menuliskan sebuah surat yang sangat pedih kepada istrinya. Katanya “ Jika aku tidak kembali, Sarah tersayang, jangan pernah lupa betapa aku mencintaimu. Saat aku menghembuskan nafas terakhirku di medan peperangan, nafas itu akan membisikkan namamu”

Sepintas cerita diatas sangatlah terlihat romantis. Tak dapat dipungkiri bahwa cinta kasih yang ada pada diri seseorang selalu ingin diwujudnyatakan dengan lebih indah pada orang yang dikasihinya, namun yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana kasih kita terhadap Allah yang adalah pencipta hidup kita, Allah yang telah menyatakan kasih-Nya terlebih dahulu kepada kita melalui pengorbanan Yesus di kayu salib (Rom 5:8).
Kita tidak akan mungkin dapat mengasihi orang lain dengan segenap hati, jika kita tidak terlebih dahulu mengasihi Allah. Mengasihi orang lain membutuhkan hati yang taat kepada Allah. Jika kita menyadari bahwa kita belum sepenuhnya mengasihi Allah, maka akan terasa sangat sulit bagi kita untuk mengasihi orang lain.
Seorang teman saya bercerita kepada saya, menjelang bulan Februari, adalah waktu bagi dia dan teman-temannya mengadakan satu kompetensi yang berbeda dari kompetensi yang biasanya. Mereka berpendapat bahwa bulan Februari adalah saat yang tepat untuk menyatakan kasih pada wanita yang dinilainya cocok untuk dia. Saya pribadi sempat berpikir singkat, memang benar bahwa 14 Februari diperingati oleh seluruh dunia sebagai hari kasih sayang, sehingga saya sempat terdorong untuk ikut ambil bagian dalam kompetisi tersebut, namun yang harus kita lihat lebih jauh adalah kasih itu bukan hanya kita ingin nyatakan pada hari itu saja atau membuat hari itu begitu spesial untuk menyatakan kasih sayang. Yang menjadi kebenaranya adalah bahwa setiap hari itu indah Tuhan jadikan bagi kita dan itu adalah pemberian yang terbaik (Yak 1:17).
Sebagai orang yang terus rindu bertumbuh dan menyatakan kasih itu, saya juga sering sekali dihadapkan pada kasus mengaplikasikan kasih pada orang yang secara khusus saya gumulkan dalam doa. Saya telah beberapa kali harus selesai berdoa dengan seseorang karena akhirnya Roh Kudus menuntun untuk tidak meneruskan doa saya terhadap orang yang saya kasihi tersebut. Hal ini memberikan pelajaran bagi saya bahwa ketika kerinduan untuk mengasihi dan berdoa bagi orang lain dalam menemukan teman hidup adalah salah satu topik doa yang terus digumulkan dengan sungguh-sungguh.
Kenyataan bahwa saya harus selesai berdoa sering sekali saya jadikan sebagai evaluasi bagaimana sebenarnya saya saat ini mengasihi Allah terlebih dahulu, bagaimana hubungan saya dengan orang yang telah memberikan segenap hidup dan dirinya bagi dosa-dosa saya. Dari pengalaman yang telah saya alami, saya semakin diingatkan juga saat-saat saya mencoba sungguh-sungguh mengasihi Allah lebih lagi, maka wujud kasih kepada sesama itu juga saya rasakan lebih nyata dan penuh kedamaian.
Jika saat ini teman-teman sedang berdoa secara khusus bagi seseorang yang anda kasihi, biarlah ini meneguhkan kita semua bahwa kasih kita kepada Allah adalah hal yang terutama dan terlebih besar, jika teman-teman saat ini belum menemukan orang yang tepat untuk di doakan, mari juga kita melihat kapada diri kita, memulai menyatakan kasih yang terlebih dahulu kepada Allah kita, karena mengasihi orang lain membutuhkan ketaatan kepada Allah (jms).


“Hanya ada satu kebahagiaan hidup; mengasihi dan dikasihi”
(Dennis Prager)

Renungan ILUMINASI TPS BANDUNG feb-April 2009

Ketika semua yang terlintas tak sempat terucap...

Maka muailah menuliskannya
Mengejar sesuatu yang telah berlalu tak akan membuat kita merasa dapat memperbaiki masa lalu
Tuliskanlah...