“BERI DAN LAKUKAN YANG TERBAIK”
(Mat 26:6-13; Mrk 14:3-9; Yoh 12:1-8)
“datanglah seorang perempuan kepada-Nya membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi yang mahal. Minyak ini dicurahkannya keatas kepala Yesus, yang sedang duduk makan ”
Mat 26:7
Oleh Redywan James Purba S.Psi
Enam hari sebelum Paskah, Yesus tiba di Betania. Di rumah simon si kusta. Pada saat itu melakukan perjalanan dan mungkin masih akan melanjutkan perjalanannya. Tiba-tiba datanglah wanita itu dan mendekat kepada Yesus. Namanya Maria. Perhatikan apa yang dia bawa dan apa yang dilakukannya! Dia membawa buli-buli berisi minyak wangi yang mahal, dan mencurahkannya ke atas kepala Yesus dan seluruh ruangan menjadi harum.
Kata “mencurahakan” berarti melakukan atau memberikan dengan totalitas. Sebagai contoh seseorang yang mencurahkan hati dan pikirannya untuk membantunya dalam kesulitan melakukannya secara total dan penuh dengan kesungguhan. Wanita itu datang dengan minyak mahal lalu meminyaki Yesus dengan sungguh dan sepenuh hati. Tak ada yang meragukan kesungguhan Maria ketika melakukan itu.
Namun, tak semua orang suka dengan apa yang dilakukannya. Lihat saja murid-murid itu. Mereka mengatakan bahwa hal yang dilakukan oleh Maria adalah sebuah pemborosan dan memarahi dia dan mereka membandingkan pemborosan yang mereka sebut dengan perkiraan jumlah harga yang di dapat (Ayat 8 dan 9). Mungkin memang beralasan sebab minyak itu harganya mencapai 300 dinar lebih atau lebih dari gaji satu tahu (more than a year’s wages). Bisakah anda bayangkan betapa berharganya minyak itu?
Standar nilai murid akan uang sangat baik. Salah satunya adalah Yudas yang aan menyerahkan Dia. Berapa harga Yesus? Yudas menghianati Yesus dan menjualnya dengan 30 uang perak atau sama dengan 120 Denarii (1 Denari dikatakan upah seorang buruh satu hari). jika di hitung 1 tahun 365 hari maka harga minyak itu sekitar 365 Denarii dan penjualan seorang Yesus belum melebihi harga minyak Narwastu tersebut. Paradoks bukan?
Saudara-saudara apa artinya? Maria dengan segenap hatinya membeli minyak itu sebagai ganti hidupnya yang ingin ia persembahkan kepada Allah. Maria melakukan ini saat menjelang Yesus akan disalibkan dan mati di kayu salib. Keluarga Maria terdiri dari Maria, adiknya Marta dan Lazarus. Sekalipun Maria tidak kaya, ia tetap membeli minyak 300 dinar lebih yang digunakannya mengurapi Yesus. Kalau kita bandingkan penjualan Yesus yang hanya 30 uang perak oleh Yudas maka minyak itu jauh lebih mahal. Itu artinya Maria telah menjual dirinya, karena minyak narwastu itu adalah Maria sendiri dengan segala hal yang ia miliki dan ia mau persembahkan kepada Tuhan.
Mengapa Maria melakukan ini? Pertama, Maria telah melihat pekerjaan Tuhan dalam dirinya dan keluarganya (adiknya Lazarus) dan sering berkunjung kerumahnya di Betania. Kedua, Maria tahu bahwa Yesus akan mati bagi-Nya. Alasan yang kedua inilah yang menjadi hal yang utama. Berbeda dengan murid-murid Yesus yang lain yang telah dikatakan Yesus bahwa ia akan mati (16:21; 17:22-23; 20:17-19; 26:1-2) namun mereka sepertinya tidak mengerti.
Menyadari bahwa Kristus akan mati di kayu salib, Maria ingin mengurapinya sebelum dia disalibkan. Mungkin setelah Yesus mati banyak orang yang ingin mengurapinya dengan minyak, mur dan kemenyan. Namun, Maria tidak mau melakukan itu setelah Yesus mati, karena itulah Maria mau mencurahkan segala-galanya untuk Tuhan sebelum Dia mati.
Pada hari pertama dalam satu minggu itu, yaitu setelah Yesus dimakamkan, banyak perempuan yang pergi ke makam Tuhan Yesus dengan maksud mengurapi Tuhan Yesus, tetapi mereka sudah terlambat. Hanya ada satu perempuan yang tidak terlambat, karena hanya dia yang mengetahui kematian Tuhan Yesus. Hanya dia yang mempersembahkan, memberikan dan melakukan sesuatu yang terbesar dalam hidupnya kepada Tuhannya sebelum waktunya terlambat.
Apa respon Yesus melihat apa yang dilakukan Maria? Dia berkata bahwa Maria telah melakukan perbuatan baik pada-Nya dan membuat suatu persiapan atas penguburan Yesus. Sekali lagi, Maria mengetahui bahwa Yesus akan mati. Oleh karena itulah Maria tidak ingin terlambat mempersembahkan hidupnya, mempersembahkan seluruh yang dia miliki dan mempersembahkan hidupnya bagi Allah.
Bagian akhir dari perikop ini, Yesus membuat pernyataan yang mungkin jarang diucapkan Yesus untuk menghargai dan mengingat Maria yang memberikan yang terbaik dari hidupnya.
Ketika bertanya tentang mencurahkan segenap hidup kita kepada Allah, pertanyaan inilah yang seharusnya terus ada. Memberikan dan melakukan yang terbaik selama hidup melalui pekerjaan kita, studi kita, keluarga dan hal lain yang Dia percayakan untuk kita lakukan. Mungkin kita tidak punya banyak hal yang bisa kitavberikan! Mungkin kita tidak punya banyak uang atau mungkin juga kita tidak punya banyak hal yang lain tapi kita bisa memberikan waktu, tenaga, pemikiran dan ide untuk membangun kesatuan tubuh Kristus di Gereja, di persekutuan kampus atau kantor dan juga dimasyarakat kita. Tuhan tidak menuntut sesuatu yang lebih melebihi apa yang kita miliki. Pertanyaannya, maukah engkau memberikan dan melakukan yang terbaik itu?
Penulis adalah Staf Perkantas Jawa Barat.
Renungan Warta GKPS Bandung Timur Edisi365/VI/2010
Jumat, 02 April 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Ketika semua yang terlintas tak sempat terucap...
Maka muailah menuliskannya
Mengejar sesuatu yang telah berlalu tak akan membuat kita merasa dapat memperbaiki masa lalu
Tuliskanlah...
Mengejar sesuatu yang telah berlalu tak akan membuat kita merasa dapat memperbaiki masa lalu
Tuliskanlah...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar