Jumat, 02 April 2010

Berlari dan Kelelahan

“Berlari dan kelehan”

Oleh : Redywan James Purba
Sebuah perenungan dalam perjuangan ketika berlari…

Tertunduk… lesu… melangkah hingga terjatuh. Tak kuasa kulangkahkan kaki ku bahkan untuk meraih sesuatu. Semua karena aku sudah melakukan hal itu. “Berlari” dan membuatku lelah dan rapuh.
Mungkin kau bertanya! Berlari? Berjalan dengan kecepatan yang lebih? Langkah yang lebih jauh dari biasanya. Memangnya lagi terburu-buru? Atau sedang mengejar sesuatu? Sudahlah…bukan itu yang kumaksud. Berlari itu bagiku sebagai makna konotasi ‘terlalu mengerjakan banyak”. Jika kau tidak setuju, anggap saja begitu karena ini tulisan ku, maka kaupun harus memakluminya.
Tanpa sadar, semua itu memeras tenaga ku. Keletihan mungkin ‘ya’ tapi lebih tepatnya aku ‘kelelahan’. Lagi-lagi bertanya perbedaan kata itu? Buka saja Kamus Besar bahasa Indonesia (KBBI). Jika tak punya, main saja ke kamar ku. Di situ ada terlihat dan terletak di atas meja. Bukan punya ku, tapi bisa kau baca karena itu punya teman sekamar ku.
Lalu apa yang membuat “perpacuan kedua kaki “ itu seolah-olah menjadi pikiran dan topik utama hidup mu? Tak lain lagi karena itu meluluhlantahkan kehidupan yang sedang berjalan bagi ku. Bertanya lagi hal apa yang kulakukan? Percaya saja yang kulakukan itu penting dan berarti. Punya dampak banyak dan seratus persen bermanfaat bagi orang-orang di sekitar ku. Tapi yang menjadi masalah adalah aku kehilangan dan melepaskan konsumsi pribadiku. Akan kebutuhan utama dalam hidupku. Waktu berlari itu menyedot semua waktu teduh dan arah pandangan ku.
Ku tak ingin engkau merasakan dan melakukan kesalahan yang sama seperti yang kulakukan. Tapi sudahlah! Semua sudah berlalu. Aku sudah tak berlari secepat itu. Bahkan aku sudah menghentikan langkah kaki ku sejak hari itu. Menikmati hidup ku dalam kesendirian dan seolah-olah tanpa kecepatan. Terima kasih sudah mengingatkan ku, memperhatikan ku dan juga memberi waktu untuk ku…

Jatinangor, HOJ tercinta. Februari 2010.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ketika semua yang terlintas tak sempat terucap...

Maka muailah menuliskannya
Mengejar sesuatu yang telah berlalu tak akan membuat kita merasa dapat memperbaiki masa lalu
Tuliskanlah...